FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    27 02-2022

    1010

    Momentum Tepat Tingkatkan Kecakapan Digital Negara G20

    Kategori Artikel | doni003

    Laporan pekerjaan masa depan (report the future jobs) oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) 2020 mengungkap prediksi adanya 85 juta pekerjaan yang hilang di era digital. Pasalnya, pekerjaan manusia banyak digantikan oleh mesin digital. Di saat bersamaan, menurut laporan itu, ada 97 juta peluang pekerjaan baru.

    Dari survei di beberapa negara, terjadi peningkatan pekerjaan terkait digital pada sejumlah industri. Seperti analis data, spesialis kecerdasan buatan (artificial inteligence/AI) dan machine learning, insinyur robotik, spesialis pemasaran digital dan strategi, pengembang perangkat lunak, spesialis keamanan informasi, spesialis internet of things (IoT), dan spesialis proses otomatisasi.

    Peningkatan permintaan tersebut seiring dengan akselerasi otomatisasi dalam bisnis maupun industri. Risiko akan keamanan digital juga kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

    Dari jumlah tersebut dijelaskan kalau pekerjaan masa depan akan lebih banyak meliputi pekerjaan yang bisa mengombinasikan peran antara digital dengan faktor manusia. Pekerjaan-pekerjaan teknis teknologi digital akan tetap dibutuhkan, namun harus mampu mengaitkannya dengan konteks manusia.

    Prediksi itu, dinilai penting sebagai rujukan informasi untuk generasi muda yang masih bersekolah di tingkat menengah dan atas (SMP dan SMA). Ke depan program studi di perguruan tinggi akan berkembang cepat untuk menyongsong kecakapan digital yang baru.

    Menyikapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi menekankan pentingnya untuk meningkatkan kecakapan digital yang terdiri dari kecakapan keras (hard skill) dan kecakapan lunak (soft skill) di era digitalisasi. Keduanya harus dimiliki oleh generasi muda di Indonesia dan juga negara-negara G20.

    Contoh hard skill yang banyak dibutuhkan di masa datang adalah kecerdasan buatan, analis big data, machine learning, internet of things, dan lain sebagainya. Sedangkan soft skill terbagi atas empat hal, yakni compact trouble solving (kemampuan memecahkan masalah dengan mudah), critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), dan communication (komunikasi) atau disingkat 4C.

    "Jadi 4C ini yang dikawinkan dengan hard skill yang akan menjadi kecakapan yang paling dibutuhkan dunia di masa yang akan datang. Kalau World Economic Forum (WEF) itu menggambarkan sebagai terminologinya the most demanded skill in the future, itu adalah perkawinan antara soft skill dan hard skill," kata Dedy dalam "DEWG Sofa-Talk: Mengulik Isu Kecakapan dan Literasi Digital di Forum G20" yang diadakan secara virtual dari Jakarta, Jumat (18/2/2022).

    Dedy mengatakan, saat ini tidak perlu dengan khawatir dengan bertambah banyaknya peran mesin dan peran teknologi digital di dunia kerja. Sepanjang sebagai individu maupun komunitas mau terus belajar mengasah diri.

    Pun lagi, saat ini, sudah banyak media gratis yang menyediakan pembelajaran untuk pengembangan bakat diri dan pembelajaran otodidak untuk analisis big datamachine learning, AI, serta metaverse.

    Oleh karena itu, melalui Kelompok Kerja Ekonomi Digital (Digital Economy Working Group/DEWG) G20 sudah waktunya bagi Indonesia mencari solusi yang tepat dalam mencari formulasi yang tepat mendorong sumber daya manusia (SDM) di bidang digital.

    Untuk menyiapkan SDM tersebut, kata Dedy, diperlukan kerja sama seluruh pihak, baik tingkat nasional maupun global dengan negara-negara G20. Forum DEWG dalam Presidensi G20 Indonesia 2022 juga berupaya menghadirkan kesepakatan global dalam membangun ekosistem digital yang inklusif.

    "Melalui DEWG ini kita secara global berupaya untuk memiliki kesepakatan, ada kesepakatan koridor dalam kita membangun ekosistem digital. Khusus untuk digital Indonesia kita menginginkan ekosistem digital yang inklusif, yang memberdayakan, dan berkelanjutan," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Mira Tayyiba dalam DEWF Sofa-Talk Series, Jumat (18/2/2022).

    Salah satu isu prioritas yang dibawa Indonesia dalam forum DEWG G20 adalah literasi digital dan kecakapan digital. Literasi dan kecakapan digital penting dimiliki masyarakat agar terampil di ruang digital. Selain itu, masyarakat juga dapat beretika dan melindungi diri ketika berada di ranah digital.

    Mira berpendapat, kecakapan dan literasi digital juga bisa dikaitkan dan relevan dengan isu di beberapa kelompok kerja atau Working Group (WG) G20 lainnya, misalnya di Employment WG, yaitu terkait pekerjaan di masa depan.

    Sebagai contoh adalah dilakukannya otomasi pembayaran tol beberapa waktu lalu yang menimbulkan pertanyaan, bagaimana nasib para pegawai yang menjaga pintu tol. Lantas isu lainnya seperti sebagian pekerjaan pegawai negeri sipil (PNS) yang akan digantikan dengan kecerdasan buatan.

    Kementerian Kominfo sendiri telah menghadirkan berbagai program dalam rangka pemerataan literasi dan kecakapan digital ke masyarakat luas. Ada tiga program utama. Yakni pelatihan tingkat dasar melalui Gerakan Nasional Literasi Digital, Kementerian Kominfo memiliki program Digital Talent Scholarship (DTS) untuk kecakapan digital tingkat menengah, dan Program Digital Leadership Academy (DLA) tingkat kecakapan tingkat atas.

    Kecakapan dan literasi digital adalah salah satu dari tiga isu prioritas yang dibawa dalam Digital Economic Working Group (DEWG) Presidensi Indonesia G20 2022, selain isu Konektivitas dan Pemulihan pasca Covid-19 dan Arus Data Lintas Batas (negara).

    Adapun sebagai Mitra Strategis Nasional DEWG G20, Ketua Umum Siberkreasi Yosi Mokalu menjelaskan, pada 2021 pihaknya lebih fokus melakukan literasi digital ke 514 kabupaten/kota dengan menggandeng Kementerian Kominfo. Sedangkan untuk tahun ini, Siberkreasi akan melakukan literasi digital yang fokus pada komunitas agar bisa mendapat pengetahuan lebih mendalam sesuai kebutuhan mereka.

    Para narasumber DEWG Sofa-Talk kali ini sepakat program kecakapan dan literasi digital masih harus terus dilakukan dan dikembangkan seiring berkembangnya teknologi, dan era transformasi digital secara global.

    Sumber: indonesia.go.id

    Berita Terkait

    DIN G20 Memperkuat Sinergi Transformasi Digital

    Sebanyak 400 partisipan dari 42 perusahaan modal ventura, 55 perusahaan rintisan digital, hingga pembuat kebijakan bidang digital menghadiri Selengkapnya

    Empat Langkah Pemerintah Sukseskan Migrasi ke TV Digital

    Survei internal Kementerian Kominfo mengungkapkan, lebih dari 60 persen masyarakat siap beralih dari TV analog ke digital. Selengkapnya

    Survei Menunjukkan Publik Makin Paham TV Digital

    Sosialisasi program ASO tak hanya menyasar kelompok miskin, tapi juga 22 juta rumah tangga mampu yang masih memiliki TV analog. Selengkapnya

    Kominfo Sediakan Tujuh Akademi untuk Talenta Digital Nasional

    Tahun ini, pelatihan DTS bagi 200 ribu peserta bertema keamanan siber, kecerdasan buatan, mahadata, komputasi awan, dan programing. Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA