FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    18 12-2018

    484

    Lebih Dekat dengan BAKTI, Penyedia Infrastruktur Telekomunikasi Wilayah 3T

    Kategori Artikel | mth

    Jakarta, Kominfo - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi atau lebih akrab dikenal dengan sebutan BAKTI merupakan salah satu lembaga dibawah naungan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemnkominfo). BAKTI merupakan sebuah badan yang sebelumnya memiliki nama Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI). 

    Direktur Utama BAKTI Anang Latif mengajak masyarakat mengenal lebih dekat tentang peran dan fungsi BAKTI untuk Indonesia melalui program Tok Tok Kominfo Kepoin BAKTI untuk Negeri di Gedung Menara Merdeka, Jakarta, Senin, (17/12/2018).

    “BAKTI ini sudah berumur 12 tahun, awal didirikan pada tahun 2006 namanya masih BTIP (Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan), kemudian pada tahun 2010 ganti nama lagi menjadi BP3TI (Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika), tahun 2018 ini namanya diganti yang lebih keren dan mudah dihafal, yaitu BAKTI,” kata Anang.

    Tujuan berdirinya BAKTI sebagai upaya mewujudkan nawa cita yang salah satunya meningkatkan pembangunan infrastruktur, namun pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas BAKTI adalah daerah-daerah terpencil yang belum menyentuh fasilitas dan pelayanan telekomunikasi.

    “Tujuan berdirinya BAKTI untuk meningkatkan infrastruktur di daerah-daerah kecil yang belum ada infrastruktur telekomunikasi. Daerah-daerah kecil yang dimaksud lebih dikenal dengan sebutan 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal), jadi 3T ini merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk wilayah-wilayah yang berada terpencil maupun perbatasan,” jelas Anang.

    Sebagai informasi, program 3T dari BAKTI ini merupakan program yang lahir di era Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dibawah naungan Kemkominfo. Meskipun ribuan wilayah sudah mendapatkan fasilitas telekomunikasi melalui program tersebut, namun BAKTI masih tetap menyasar wilayah yang sudah menjadi target selanjutnya.

    “Banyak sekali daerah kita di wilayah 3T yang belum tersentuh infrastruktur telekomunikasi, tapi sejak 2016 hingga 2018 ini mulai efektif kita membangun infrastruktur telekomunikasi, bahkan sudah lebih dari tiga ribu lokasi yang semulanya tanpa ada sinyal sekarang hadir sinyal disitu, baik sinyal wifi maupun seluler. Target kami kedepannya adalah membangun lebih banyak lagi wilayah yang belum mendapatkan fasilitas ini,” kata Anang. 

    Anang juga menjelaskan peran strategis BAKTI lebih memfokuskan pada pengembangan daerah-daerah pinggiran yang belum tersentuh. Menurut Anang, daerah pinggiran di Indonesia juga harus mendapatkan fasilitas yang sama layaknya masyarakat di perkotaan.  

    “Peran strategis BAKTI ini taglinenya katakanlah membangun dari pinggiran (#membangundaripinggiran) biasanya kalau operator komersial membangun di daerah-daerah pusat dan daerah-daerah pusaran yang bisnisnya bagus, tapi kalau kita (BAKTI) terbalik, justru dari terluar sehingga saudara-saudara kita yang ada di perbatasan dan terluar tetap merasa bagian dari NKRI,” jelas Anang.

    Adapun program pembangunan infrastruktur telekomunikasi ini tujuannya bukan lebih kepada profit oriented, tapi lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di 3T. Anang menjelaskan, BAKTI bukanlah operator, melainkan tugas BAKTI adalah menciptakan sebuah skema yang nantinya skema tersebut dibawah juga kepada industri BAKTI yakni sektor telekomunikasi.**

    Berita Terkait

    Lompatan Katak untuk Pemerataan Infrastruktur TIK Indonesia

    Pemerintah mengambil langkah lompatan kebijakan (leap frog) untuk menggenjot pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, t Selengkapnya

    Jadikan Nelayan Bangga Lewat Aplikasi di Jaringan Palapa Ring

    Pemerintah senantiasa berupaya berupaya melakukan terobosan agar pendapatan nelayan Indonesia meningkat. Salah satunya melalui pemanfaatan a Selengkapnya