FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
18 05-2017

695

Forum Merdeka Barat 9: Memperteguh Keindonesiaan

SIARAN PERS NO. 59/HM/KOMINFO/05/2017
Kategori Siaran Pers

SIARAN PERS NO. 59/HM/KOMINFO/05/2017

tentang

Forum Merdeka Barat 9 “Memperteguh Keindonesiaan”

Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Rabu (17/5), kembali menyelenggarakan Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di Gedung Stovia, Jakarta. Acara yang dibuka oleh Menkominfo Rudiantara ini mengambil tema "Memperteguh KeIndonesian", dengan menghadirkan narasumber Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Wiranto; dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Tujuan acara tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan, memahami, dan mengamalkan empat konsensus Nasional guna meneguhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menko Polhukam Wiranto menyampaikan, empat konsensus yang dilahirkan para pejuang di masa lalu mengadopsi nilai-nilai agama. "Keberhasilan tokoh-tokoh agama dahulu adalah berhasil memasukan roh keagamaan dalam butir-butir dalam Pancasila," urainya.

Senada dengan Wiranto, Menag Lukman Hakim menyatakan bahwa Indonesia dikenal sebagai masyarakat agamais-religius yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Hal ini disadari oleh Soekarno, sehingga Pancasila merupakan rumusan untuk mewujudkan nilai-nilai agama dalam konteks kehidupan bernegara.

"Butir Pancasila merupakan hakekat nilai keagamaan, sehingga tidak ada alasan untuk membenturkan Pancasila dengan agama," tandas Menag.

Dalam diskusi yang dihadiri 51 wartawan media cetak, elektronik, dan media online tersebut, Wiranto juga mengemukakan bahwa fungsi kelembagaan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) sangat penting untuk mengembalikan fungsi bela negara. "Bela negara bukan diartikan ikut berperang tetapi mengarahkan, membimbing masyarakat untuk memiliki rasa kewajiban membela negara dalam konteks sesuai kompetensi individu," imbuhnya.

Menutup diskusi, Menag menuturkan bahwa NKRI merupakan bentuk final dalam konteks keagamaan, yaitu sebagai sebuah medium tempat terimplementasikan dan teramalkannya nikai-nilai agama. "Karena ada kewajiban menjaga kedamaian. Kemajemukan adalah kehendak Allah, sehingga perlu sesuatu yang bisa menyatukan yaitu Bhinneka Tunggal Ika," pungkasnya.

Jakarta, 18 Mei 2017

BIRO HUMAS

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

***

comments powered by Disqus