FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    22 07-2021

    166

    Pengguna Niaga-el Meningkat, Kemendag Tangani 4.855 Aduan Konsumen

    Kategori Berita Pemerintahan | srii003

    Jakarta, Kominfo - Pemanfaatan platform digital membawa dampak terhadap peningkatan jumlah aduan konsumen. Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono menyebutkan selama Semester I tahun 2021 sebanyak 95 persen atau 4.855 konsumen membuat pengaduan di sektor niaga elektronik (e-commerce). 

    “Banyaknya pengaduan di sektor ini karena konsumen semakin intensif menggunakan transaksi secara elektronik selama pandemi Covid-19.  Pengaduan konsumen di sektor niaga-el berjumlah 4.855 atau 95 persen dari total jumlah pengaduan konsumen yang masuk yaitu 5.103 selama periode Januari s.d. Juni 2021,” jelasnya di Jakarta, Kamis (22/07/2021)

    Dirjen Veri menyatakan secara keseluruhan pemerintah berhasil menyelesaikan 4.991 dari total 5.103 pengaduan konsumen di berbagai sektor yang masuk melalui berbagai kanal. “Dari 4.855 pengaduan konsumen di sektor niaga-el, sejumlah 4.852 pengaduan telah berhasil diselesaikan,” jelas Veri. 

    Menurut Dijen PKTN, pengaduan di sektor niaga-el meliputi permasalahan pembatalan tiket transportasi udara, pengembalian dana (refund), pembelian barang yang tidak sesuai dengan perjanjian atau rusak, barang tidak diterima konsumen, pembatalan sepihak oleh pelaku usaha, waktu kedatangan barang tidak sesuai dengan yang dijanjikan, penipuan belanja daring, serta penggunaan aplikasi platform atau media sosial yang tidak berfungsi. 

    “Penyelesaian pengaduan konsumen dapat dikategorikan telah selesai apabila konsumen menerima hasil klarifikasi dari pelaku usaha dan mengkonfirmasi bahwa pengaduan telah selesai. Pengaduan juga dinyatakan selesai apabila terjadi kesepakatan antara pelaku usaha dan konsumen, pengaduan telah ditindaklanjuti melalui klarifikasi, mediasi, atau diselesaikan langsung oleh pelaku usaha,” jelasnya. 

    Selain itu, Dirjen Veri menjelaskan pengaduan juga dianggap selesai apabila konsumen tidak melengkapi data pendukung paling lambat 10 hari kerja, sehingga pengaduan ditutup/dinyatakan selesai. “Pengaduan konsumen yang dinyatakan dalam proses yaitu pengaduan yang masih menunggu kelengkapan data dari konsumen, dalam proses analisis dokumen, menunggu klarifikasi dari pelaku usaha atau konsumen, dan juga sedang dalam proses mediasi,” ungkapnya.

    Pengaduan konsumen dinyatakan ditolak jika konsumen sudah menyampaikan pengaduan yang sama ke lembaga lain seperti Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), pengadilan negeri, atau ke kepolisian.

    Dirjen PKTN mengungkapkan, selama periode Januari—Juni 2021, whatsapp menjadi saluran layanan pengaduan konsumen yang paling banyak digunakan yaitu sebanyak 4.456 pengaduan. Saluran terbanyak selanjutnya adalah pos-el 471 pengaduan, situs web 170 pengaduan, datang langsung 4 pengaduan, serta surat 2 pengaduan. 

    “Penyelesaian pengaduan konsumen akan terus ditingkatkan sebagai wujud upaya pemerintah dalam melindungi konsumen Indonesia dan menciptakan konsumen berdaya,” ujarnya.

    Berita Terkait

    Penyaluran KUR Meningkat Pesat, Sinyal Pemulihan Ekonomi

    Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) turut mendukung pemulihan ekonomi nasional. Realisasi penyaluran KUR pun terus mengalami peningkatan, cont Selengkapnya

    Perluas Kerja Sama Antarelemen Masyarakat untuk Tangani Pandemi

    Peningkatan kasus positif Covid-19 dalam satu bulan terakhir berdampak pada tingkat keterisian tempat tidur/bed occupancy rate (BOR) rumah s Selengkapnya

    Pemerintah Kembangkan Potensi dan Talenta Perempuan

    Pemerintah memiliki perhatian besarbesar untuk mengembangkan potensi dan talenta perempuan. Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyatakan Selengkapnya

    Dorong Pemimpin Negara Dunia Lakukan Langkah Nyata Atasi Kesenjangan Vaksin Antarnegara

    Indonesia telah memutuskan untuk menjadi salah satu negara co-sponsor bagi usulan TRIPS Waiver untuk dapat meningkatkan produksi sekaligus m Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA