FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    10 04-2021

    136

    Perkuat Kerukunan Umat Beragama, Dialog Islam-Khonghucu Patut Diapresiasi

    Kategori Berita Pemerintahan | doni003

    Jakarta, Kominfo – Agama mengajarkan nilai-nilai penting kemuliaan hidup, di antaranya, untuk mengembangkan kedamaian dan kerukunan hidup antar sesama. Untuk itu, penyelenggaraan Dialog Islam-Khonghucu oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) patut diapresiasi, sebagai wujud sinergi merawat kerukunan umat beragama di Indonesia.

    “Saya mengapresiasi forum Dialog Islam dan Khonghucu sebagai bentuk nyata upaya merawat serta memperkuat kerukunan, khususnya antara umat Islam dan umat Khonghucu,” tutur Wakil Presiden (Wapres) K.H. Maruf Amin pada peringatan hari lahir MATAKIN yang ke-98, dari Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Sabtu (10/04/2021).

    Upaya tersebut, lanjut Wapres, sejalan dengan arah dan tujuan didirikannya MATAKIN pada 1923 sebagai satu-satunya lembaga agama Khonghucu tertinggi di Indonesia.

    “MATAKIN bertujuan untuk mengembangkan umat Khonghucu agar dapat mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, sehingga mampu memperbarui diri dan berpartisipasi aktif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

    Di akhir sambutan singkatnya tersebut, tak lupa Wapres mengucapkan selamat ulang tahun dan berharap kehadiran MATAKIN semakin membawa kemanfaatan bagi bangsa ini.

    “Selamat Hari Lahir MATAKIN yang ke-98. Semoga MATAKIN semakin maju dan dapat terus memberi manfaat serta kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” pesan Wapres.

    Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN Budi S. Tanuwibowo mengemukakan, umat perlu mengetahui perbedaan-perbedaan antara satu agama dengan agama lainnya semata adalah untuk mengembangkan sikap saling menghormati. Sementara itu, persamaan-persamaan yang ada dapat dijadikan landasan untuk memperkuat kerukunan umat di Indonesia.

    “Jangan lagi bangsa Indonesia dipecah-pecah atau sengaja diretakkan oleh perbedaan-perbedaan, terutama oleh perbedaan agama dan keyakinan. Mudah-mudahan kita semua semakin sadar bahwa agama untuk manusia, untuk kemanusiaan,” ucap Budi.

    Sebagai informasi, Dialog Khonghucu-Indonesia bertema “Tuhan dan Ketuhanan dalam Perspektif Islam-Khonghucu” dipilih MATAKIN sebagai bentuk perayaan hari lahirnya khusus untuk tahun ini, karena dewasa ini berkembang fenomena pergeseran makna Tuhan dan ketuhanan seiring perubahan peradaban manusia. Selain itu, kedua agama sering dikesankan jauh berbeda. Untuk itu, forum ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman nilai-nilai Islam dan Khonghucu di Indonesia sebagai upaya mempererat persaudaraan di antara kedua umat beragama tersebut.

    Hadir sebagai narasumber, tokoh-tokoh dari kedua agama, antara lain, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud, Anggota Dewan Rohaniwan MATAKIN Pusat Chandra Setiawan, dan Ketua Umum Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU) Kris Tan.

    Sementara, Wapres didampingi Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar serta Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi dan Bambang Widianto. 

    Berita Terkait

    Dorong Penguatan Moderasi Beragama di Tengah Kehidupan Masyarakat

    Organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia dalam kiprahnya membangun bangsa harus turut menguatkan moderasi beragama di tengah masyarakat. Selengkapnya

    Moderasi Beragama Kunci Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

    Indonesia merupakan bangsa yang majemuk terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa maka sika Selengkapnya

    RI-Jepang Terus Perkuat Kerja Sama Industri Manufaktur

    Indonesia dan Jepang terus berupaya meningkatkan kerja sama ekonomi yang komprehensif, khususnya di sektor industri. Sinergi kedua negara in Selengkapnya

    Kerukunan Antar Umat Beragama Kunci Utama Menjaga Keutuhan Bangsa

    Keberagaman suku, agama, dan ras bangsa Indonesia merupakan keunikan tersendiri yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Namun, ti Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA