FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    11 02-2020

    82

    Pemerintah Tidak Berencana Pulangkan Teroris Lintas Batas

    Kategori Berita Pemerintahan | mth

    Bogor, Kominfo - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD menyampaikan jumlah teroris lintas batas, Foreign Terrorist Fighters (FTF), per hari ini sebanyak 689 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Suriah, Turki, dan beberapa negara lain.

    “Keputusan rapat tadi, pemerintah dan negara harus memberi rasa aman dari ancaman teroris dan virus-virus baru teroris terhadap 267 juta rakyat Indonesia,” ujar Menko Polhukam usai mengikuti Rapat Terbatas di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/02/2020).

    Kalau FTF ini pulang, lanjut Menko Polhukam itu bisa menjadi virus baru yang membuat rakyat yang 267 juta itu merasa tidak aman. “Sehingga pemerintah, yang kedua ini, tidak ada rencana memulangkan teroris, tidak. Bahkan tidak akan memulangkan FTF ke Indonesia,” tegas Menko Polhukam.

    Meskipun demikian, menurut Menko Polhukam, Pemerintah juga akan menghimpun data yang lebih valid tentang jumlah dan identitas orang-orang yang dianggap terlibat teror, bergabung dengan ISIS. Untuk anak-anak di bawah 10 tahun, menurut Menko Polhukam, akan dipertimbangkan, tapi case by case. “Artinya ya lihat saja apakah anak itu di sana ada orang tuanya atau tidak, anak-anak yang yatim piatu yang orang tuanya sudah tidak ada,” tambahnya.

    Jumlah anak-anak yang berada di bawah 10 tahun, menurut Menko Polhukam berdasar data dari CIA 689 orang, 228 ada identitas teridentifikasi sisanya 401 tidak teridentifikasi lengkap identitasnya. “Kemudian ada dari ICRP ada 185 orang. Mungkin 185 orang itu sudah menjadi bagian dari yang 689 dari CIA. Kemudian juga kita punya data-data yang ambil sendiri dari situ. Ya sekitar itulah jumlahnya,” ungkapnya.

    Menurut Menko Polhukam, hal terpenting adalah menjamin rasa aman kepada seluruh rakyat yang di sini sehingga tidak ada rencana pemerintah untuk memulangkan. “Tetapi bersamaan dengan itu mencari data yang lebih valid tentang jumlah dan identitas orang-orang itu,” pungkas Menko Polhukam.

    Sebelumnya, usai memimpin Rapat Koordinasi Terbatas Tingkat Menteri membahas terkait kondisi politik, hukum dan keamanan saat ini, Mahfud MD menyebut  salah satu hal yang menjadi pembahasan yaitu mengenai teroris pelintas batas atau Foreign Terrorist Fighters.

    “Pertemuan dengan Menteri Agama, BNPT, Menteri Luar Negeri, Menteri Hukum dan HAM. Bahas teroris pelintas batas, FTF,” ujarn Menko Polhukam Moh. Mahfud MD di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/2/2020).

    Menurut Menko Polhukam, saat ini belum ada perkembangan terkait pemulangan FTF tersebut. Karena masih banyak perdebatan pro dan kontra. Ada yang mengatakan tidak boleh dipulangkan karena itu virus, namun menurut Komnas HAM, pemulangan FTF merupakan tugas negara.

    “Tapi ada yang mengatakan “tidak bisa dong, masa melindungi segelintir orang, tapi mengancam 267 juta orang”. Seperti itu tadi diskusinya,” kata Menko Polhukam.

    “Kita sudah membuat alternatif-alternatif, nanti siang akan dilaporkan ke Presiden,” sambungnya.

    Berita Terkait

    Presiden Tinjau dan Resmikan Rehabilitasi Madrasah di Pekanbaru

    Mengawali hari kedua kunjungan kerjanya ke Provinsi Riau, Jumat (21/02/2020), Presiden Joko Widodo meninjau sekaligus meresmikan Madrasah Ts Selengkapnya

    Pemerintah Resmi Ajukan RUU Cipta Kerja ke DPR RI

    Pemerintah secara resmi menyerahkan Surat Presiden (Supres), Draft dan Naskah Akademik RUU Cipta Kerja (Ciptaker) kepada Dewan Perwakilan Ra Selengkapnya

    Ingin Lindungi 260 Juta Penduduk, Presiden Tegaskan Pemerintah Tidak Berencana Pulangkan Eks-ISIS

    Pemerintah memiliki tanggung jawab keamanan utamanya terhadap 260 juta penduduk Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah tidak memiliki rencan Selengkapnya

    Melek Teknologi, Perempuan Bisa Temukan Peluang Pasar Baru

    Memasuki era revolusi industri 4.0, menjadi sebuah hal yang tidak terhindarkan jika sebuah dunia kerja menuntut adanya campur tangan dan kem Selengkapnya