FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    20 12-2019

    668

    Transformasi Digital di Segala Bidang, Termasuk di Pemerintahan

    Kategori Berita Pemerintahan | mth

    Jakarta, Kominfo - Transformasi digital dilakukan di segala bidang. Termasuk di pemerintahan. Demikian disampaikan Deputi bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Kennedy Simanjuntak saat menjadi pembicara dalam diskusi media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertema “Transformasi Digital: Untung atau Buntung?”, yang digelar di ruang serbaguna Roeslan Abdulgani, Gedung Utama Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (20/12/2019).

    “Sudah beberapa tahun ini pemerintah melakukan transformasi digital di sejumlah bidang. Pertama dengan menggelar pemerintahan yang berbasis elektronik,” katanya.

    Melalui pemerintahan berbasis elektronik, Kennedy menjelaskan, terjadi efisiensi dan efektivitas kerja ASNYakni, sambung dia, dengan menggunakan waktu yang optimal untuk kegiatan yang menambah nilai (value added activities).

    “Lalu, lebih fleksibel untuk membentuk tim, sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan pekerjaan sehingga keputusan yang dihasilkan lebih maksimal,” katanya.

    Selain itu, Kennedy mengatakan, pemerintah juga mengembangkan satu data dan big data. Diharapkan dari itu, sambung dia, terjadi peningkatan produktivitas sebab dengan sistem dashboard dan sharing file/sharing data untuk mengurangi silo dan meningkat kualitas keluaran yang dihasilkan.

    Hal lainnya, menurut Kennedy, adalah perubahan paradigma kerja di aparatur sipil. “Di Bappenas sendiri kami mulai memberlakukan hal itu melalui flexiwork.bappenas.go.id. Kalangan milenial di Bappenas senang dengan hal ini tapi yang lebih senior memang butuh penyesuaian,” tuturnya.

    Dari sisi inovasi digital, akan muncul sharing ekonomi. Jika dulu kita hanya barter, kemudian muncul uang sebagai alat pembayaran yang sah. Tapi dengan digital dengan model barter yang dulu, masih bisa terjadi dengan mudah melalui IT.

    Hal itu disampaikan Ketua Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) Iskandar Simorangkir dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) bertajuk "Transformasi Digtal: Untung atau Buntung" di Ruang Rapat Utama, Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Jumat (14/12/2018).

    “Dulu ketika saya masih sekolah, saya butuh buku mikro ekonomi. Dan akhirnya saya membeli melalui amazone. Kebutuhan saya atas buku itu ada yang merespons dengan menawarkan harga sekian dan ketika cocok, terjadilah transaksi,” jelas Iskandar.

    Nanti, menurut Iskandar, semua yang kita lakukan sudah melalui perusahaan-perusahaan e-commerce. Penawaran terus terjadi dan termonitor. Dan apa yang kita lakukan akan tercatat semua.

    “Begitupun sebaliknya, kalau kita melakukan kesalahan dan dosa bisa termonitor juga. Segala sesuatu bisa dimonitor melalui perangkat digital,” ucap Iskandar.

    Ketua Sekretariat DNKI menjelaskan, ke depannya akan banyak tercipta pekerjaan. Namun, pertanyaannya bagaimana dengan produktivitas kita? Siapa yang menghasilkan barang, pasti tetap dibutuhkan adanya orang yang melakukan pekerjaan seperti itu.

    “Maka, jika ada peluang, pasti ada juga tantangan. Kita harus mampu menjawab semua tantangan yang ada di depan mata kita untuk kepentingan pembangunan nasional,” jelas Iskandar.

    Dengan ekonomi digital, menurut Iskandar, akan banyak tercipta pekerjaan-pekerjaan baru. Kalau bisa dioptimalkan, ada 27-60 juta pekerjaan baru terkait ekonomi digital. Dengan sistem insentif, bisa meng-up skilling dirinya sendiri. Tanpa harus berharap dari pemerintah.

    “Karena ada motivasi bekerja akan menghasilkan uang, maka akan tergerak untuk belajar sendiri (learning by doing). Dengan insentif orang akan belajar sendiri. Ketika tahu menciptakan, semua belajar dengan caranya sendiri, akhirnya terciptalah sebuah ekosistem.

    “Prinsip kebijakan ekonomi digital adalah equel, mendorong inovasi, orientasi kepentingan nasional, manfaat bagi pelaku usaha lokal, dan inklusif. Untuk itu, program-program yang didorong adalah harus selalu terkait pengembangan ekonomi digital Indonesia dengan basis UMKM dan Digital Talent.

    Sehingga, Iskandar menjelaskan, dengan perkembangan yang pesat, kita terus mengikuti agar tidak tertinggal dari kondisi yang terjadi di dunia. Khususnya terkait ekonomi digital di hampir selurh belahan dunia.

    “Untuk bisa memperoleh manfaat, harus diciptakan ekosistem. Ini menguntungkan untuk kita, bisnis to bisnis (B to B). Kalau itu bisa dilakukan, kita akan memperoleh manfaat ekonomi digital yang cukup besar,” pungkas Iskandar.

    Selain Ketua Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) Iskandar Simorangkir dan Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Kennedy Simanjuntak, turut hadir sebagai narasumber Dismed FMB’9 yaitu Dirjen Binalattas Kemnaker Satrio Laleno, dan Pengamat Pendidikan Darmaningtyas.

    Berita Terkait

    Bappebti Blokir 89 Domain Situs Pialang Berjangka Tak Berizin

    Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan memblokir 89 domain entitas yang tidak memiliki izin. Sehin Selengkapnya

    Perkuat Ekonomi Desa di Tengah Pandemi

    Pandemi menjadi momentum untuk melakukan reformasi dan merencanakan strategi besar untuk mendukung ekonomi pedesaan. Selengkapnya

    Gandeng Google, Kemenag Luncurkan Transformasi Digital Pendidikan Madrasah

    Kementerian Agama meluncurkan program transformasi digital pendidikan Madrasah. Program ini dilaksanakan dengan menggandeng raksasa perusaha Selengkapnya

    Menhub Tinjau Konektivitas Transportasi Saat Pandemi di Palembang

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, meninjau langsung konektivitas dan efektivitas transportasi di kota Palembang saat masa pandemi. Selengkapnya