FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    05 12-2019

    207

    Kemendikbud Ajak Pemangku Kepentingan Bersinergi Bentuk Ekosistem Pemajuan Kebudayaan

    Kategori Berita Pemerintahan | Yusuf
    Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid, saat memberikan sambutan dalam acara Kabar Indonesiana Platform Kebudayaan di Hotel The Sultan, Jakarta Selatan, Kamis (05/12/2012). - (Yusuf)

    Jakarta, Kominfo - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan melakukan berbagai tindakan nyata setelah pengesahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan untuk menangani kegiatan budaya secara lebih sistematis. Salah satunya yaitu menghasilkan platform Indonesiana. Program yang dirancang sejak 2017 itu merupakan sebuah struktur hubungan terpola antar penyelenggara kegiatan budaya di Indonesia yang dibangun secara gotong-royong dan bertujuan sebagai penjangkau dan peningkatan kualitas seluruh festival kebudayaan di setiap daerah di Indonesia.

    Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid mengatakan semangat yang diangkat dari ‘Platform Indonesiana’ ini adalah adanya rasa kepemilikan seluruh pemangku kepentingan terhadap kebudayaan Indonesia, penguatan lokal, keragaman, partisipatif dan ketersambungan dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan dan upaya pelestariannya. “Platform ini mengangkat semangat yang terdiri dari lima pilar, yakni gotong royong, penguatan lokal, keragaman, partisipatif, dan ketersambungan. Hal itu dilaksanakan berbagai kegiatan kebudayaan,” ucapnya saat ditemui diacara timbang pandang perjalanan platform indonesiana, Kamis (05/12/2019).

    Dalam UU No 5/2017, lanjut Hilmar, pemerintah menempati posisi sebagai fasilitator yang memungkinkan kebudayaan milik masyarakat bisa berkembang dengan baik. Fokusnya pada tata kelola, bukan pada substansi kebudayaannya. “Pemerintah melalui Kemendikbud mengundang seluruh komponen masyarakat untuk bersama mendukung kegiatan ini, melalui pendukungan proses-proses tata kelola kegiatan kebudayaan,” tegasnya.

    Sebagai perwujudan amanat undang-undang tersebut, Dirjen Kebudayaan menambahkan, ‘Platform Indonesiana’ hadir sebagai upaya untuk penguatan kapasitas serta sinergi antar pemangku kepentingan untuk terbentuknya ekosistem pemajuan kebudayaan, sehingga keberlanjutan program-program kebudayaan terjamin dan apa yang kita cita-citakan tentang kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. “Kegiatan seperti festival ini hanya bisa langgeng kalau ekosistemnya tumbuh. Selama ini kurang mendapat perhatian, jadi kita sering lihat ada festival bagus, hanya bertahan satu hingga dua tahun kemudian lenyap. Ada banyak inisiatif yang bagus-bagus tapi umurnya gak panjang,” ujarnya.

    Sambutan Dirjen Kebudayaan

    Inisiatif ini, ungkap Hilmar, dirumuskan dengan memperhatikan gejala fragmentasi kegiatan budaya dan ketiadaan standar penyelenggaraan kegiatan budaya. Gejala tersebut mencakup, antara lain, tidak jelasnya dampak kegiatan budaya dalam kehidupan masyarakat, penyelenggaraan kegiatan budaya yang minim investasi dan boros biaya, serta kondisi keberlanjutan kegiatan budaya yang memprihatinkan.

    Kendati demikian, menurutnya festival budaya dapat berpotensi menjadi ajang untuk menguatkan karakter budaya bangsa dan menjadi wahana untuk menumbuh-kembangkan identitas budaya yang memperlihatkan bukan hanya keunikan melainkan juga ketersambungan daerah.

    Dia menambahkan, hal-hal yang disampaikan dalam platform ini pun bersifat sangat teknis, misalnya cara membangun panggung, sistem pencahayaan, tata suara, dan manajemen penyelenggaraan suatu acara.

    Maka dari itu, komunikasi menjadi sesuatu yang penting agar berbagai pihak yang terlibat dapat bekerja sama dalam mengadakan suatu perhelatan kebudayaan. “Komunikasi itu sangat penting. Jadi kita semua itu kerja sama, mengundang para ahli juga, teman-teman kurator dan seniman kita libatkan, sehingga pada akhirnya nanti penyelenggaraan kegiatan itu bisa meningkat kualitasnya,” imbuh Hilmar.

    Hilmar melanjutkan, Seperti halnya yang dikatakan Presiden Joko Widodo, bahwa kebudayaan adalah DNA-nya Indonesia. Kedepannya diharapkan jika tata kelolanya semakin baik, maka kebudayaan sebagai basis pembangunan bisa maju dan menjadi bagian yang diperhitungkan dalam setiap upaya pembangunan bangsa. "Festival-festival di daerah tujuannya untuk meningkatkan kualitas. Festival budaya berpotensi menjadi ajang untuk menguatkan karakter budaya bangsa. Festival juga menjadi wahana untuk menumbuh kembangkan identitas budaya. Bukan hanya keunikan melainkan juga ketersambungan daerah," pungkasnya.

    Dia berharap, melalui platform Indonesiana, diharapkan semakin banyak SDM bidang kebudayaan yang mumpuni. Baik sebagai kurator, pelaku seni, manajemennya, dan lainnya. "Semua itu tidak akan terwujud jika hanya diperankan oleh Kemendikbud. Tentunya dibutuhkan kerja sama dan dukungan dari masyarakat serta lembaga-lembaga dan pemangku kepentingan lainnya," tandasnya. (hm.ys)

    Acara Diskusi Indonesiana

     

    Suasana Acara

    Berita Terkait

    Implementasikan SAKIP Agar Pembangunan Berdampak ke Masyarakat

    Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang dilaksanakan setiap pemerintah daerah tidak hanya diperuntukan ba Selengkapnya

    Kolaborasi Pemerintah dan Pers Penting Untuk Sosialisasi Kebijakan

    Peran pers atau media sebagai mitra penting pemerintah dalam penyebarluasan kebijakan pemerintah perlu terus ditingkatkan. Media dan pemerin Selengkapnya

    Menko PMK Ingatkan Tantangan Pers untuk Menjaga Kebudayaan

    Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pers dan wartawan memiliki pengaruh ya Selengkapnya

    Bappenas: Aspek Kelembagaan dan Pembiayaan Penting dalam Pemindahan Ibu Kota Negara

    Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN)/Sekretaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas), Himawan Hariyoga menyebut ad Selengkapnya