FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    31 08-2019

    200

    Pemerintah Gencar Tingkatkan Kompetensi SDM Industri Animasi dan Garmen

    Kategori Berita Pemerintahan | mth
    Suasana peluncuran film dan games animasi karya siswa Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK), di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (28/8/2019). Kementerian Ketenagakerjaan meluncurkan film animasi dan games yang merupakan salah satu kegiatan unggulan karya siswa pelatihan BBPLK Bekasi, sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia kompeten serta penyerapan tenaga kerja di bidang industri kreatif. - (antarafoto)

    Jakarta, Kominfo - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian akan semakin giat menciptakan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten dalam upaya mendukung era ekonomi digital dan penerapan industri 4.0. Salah satu langkah strategisnya yang telah dijalankan secara kontinyu adalah menggelar Diklat 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja) untuk mencetak SDM industri animasi.

    “Industri animasi merupakan salah satu sektor industri kreatif yang cukup potensial untuk tumbuh dan berkembang di masa mendatang. Sektor ini juga kami yakini bisa memberikan kontribusi yang signfikan terhadap perekonomian nasional,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A Cahyanto di Jakarta, Sabtu (31/08/2019).

    Sepanjang tahun 2018, industri kreatif mampu menyumbang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan mencapai Rp1.000 triliun. Adapun tiga subsektor yang menjadi penopang utamanya, yakni industri kuliner sebesar 41,69 persen, disusul industri fesyen (18,15 persen), dan industri kriya (15,70 persen). Bahkan, industri animasi pertumbuhannya kian melesat di atas 6 persen.

    Oleh karena itu, menurut Eko, pihaknya melalui Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar melaksanakan Diklat 3 in 1 Pembuatan Aset Animasi 3 Dimensi angkatan XIII dan Pembuatan Gerak Animasi 3 Dimensi angkatan XXII-2019 di Bali Creative Industry Center (BCIC), Denpasar, Bali. Kegiatan ini akan berlangsung selama 30 hari ke depan, yang telah dibuka secara resmi oleh Kepala BPSDMI pada Rabu (28/8) lalu.

    “Peserta kali ini diikuti sebanyak 48 orang dari berbagai daerah, seperti dari Aceh, Lampung, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, sampai Jogja,” sebutnya. Selama program pelatihan ini, para peserta tidak dipungut biaya.

    “Mereka datang ke sini difasilitasi oleh Kemenperin, mulai dari transportasinya, akomodasinya, dan konsumsinya. Kami berharap, setelah lulus nanti, mereka menjadi SDM unggul untuk mewujudkan visi Indonesia maju. Artinya, mereka siap kerja, yang dibuktikan dengan sertifikasi. Kami juga dukung apabila ada yang ingin menjadi entrepreneur, karena bisa menyerap tenaga kerja baru,” paparnya.

    Menurut Eko, para peserta bakal dididik dan dilatih oleh instruktur yang merupakan praktisi industri, serta akan diuji kompetensinya di akhir pelatihan oleh para asesor dari LSP BDI Denpasar. “Pada akhir program, para peserta ini diharapkan siap ditempatkan langsung pada perusahaan-perusahaan animasi nasional. Untuk angkatan XIII, kami fasilitasi kerja sama dengan PT Castle Production, sedangkan untuk angkatan XXII bekerjasama dengan PT Jitu Kreasi Utama,” ungkapnya.

    Tahun 2019 ini, BDI Denpasar menargetkan mampu menghasilkan lulusan Diklat 3 in 1 hingga 2.000 orang. Berbagai program pelatihan telah dilaksanakan dari awal Januari dan berakhir bulan Desember, yang meliputi pelatihan di bidang animasi, programing dan desain grafis.

    Tidak hanya Diklat 3 in 1 industri animasi, pembinaan SDM industri kreatif yang dilakukan BDI Denpasar juga mencakup program kewirausahaaan melalui Inkubator Bisnis Tohpati dan bengkel kerajinan BIKIN Makerspace.

    Di lokasi terpisah, Kepala BPSDMI juga sempat membuka Diklat 3 in 1 Operator Mesin Industri Garmen Berbasis Kompetensi sebanyak 295 peserta di BDI Jakarta pada Jumat (30/8). Mereka yang merupakan angkatan 22-24 Tahun 2019 ini berasal dari beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

    Eko optimistis, hasil dari Diklat 3 in 1 tersebut, akan mendorong kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Tanah Air semakin gemilang. Apalagi, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri TPT merupakan satu dari lima sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan dalam kesiapan memasuki era industri 4.0.

    “Kami melihat industri TPT kita semakin tumbuh dan berkembang. Hal ini membawa dampak positif pada kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional,” ujarnya. Industri TPT nasional dinilai juga kian kompetitif di kancah global karena struktur manufakturnya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II tahun 2019, industri tekstil dan pakaian jadi sebagai sektor manufaktur yang tumbuh paling tinggi mencapai 20,71%. Di samping itu, industri TPT nasional terus memberikan kontribusi signfikan terhadap nilai ekspor nasional, yang terlihat pada tahun 2018 mencatatkan sebesar USD13,27 miliar.


    Berita Terkait

    Pemerintah Bidik 5000 SMK untuk Pendidikan Vokasi dan Bangun 500 Politeknik

    Guna meningkatkan kualitas lulusan siswa tingkat menengah yang memiliki keahlian, pemerintah telah memutuskan mengembangkan pendidikan vokas Selengkapnya

    Pemerintah Jamin Keamanan Masyarakat di Papua dan Papua Barat

    Setelah sempat terjadi kerusuhan di daerah Wamena beberapa waktu lalu, kondisinya saat ini sudah mulai kondusif kembali dan pemerintah menja Selengkapnya

    Pemerintah Dukung Inovasi Fintech Guna Tingkatkan Simpanan Nasional dan Inklusi Keuangan

    Pemerintah serius untuk meningkatkan rasio gross saving terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang kini sebesar 31% menurut Bank Dunia (2 Selengkapnya

    Mendagri: Gerakan Revolusi Mental Harus Dimulai dari Diri

    Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Komolo menyebut gerakan revolusi mental harus dimulai dari diri sendiri atau individu masing-masing y Selengkapnya