FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    01 07-2019

    386

    Pertanian 4.0 Efisiensi Waktu dan Peningkatan Produktivitas

    Kategori Berita Pemerintahan | mth

    Sidoarjo, Kominfo - Revolusi industri 4.0 merupakan kerangka teknologi yang diterapkan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mentransformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern. Kerangka ini sekaligus jawaban atas pesatnya modernisasi yang bisa memenuhi kebutuhan.

    Sejak empat setengah tahun lalu Kementerian Pertanian telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk berbagai alat dan mesin (Alsintan) pertanian seperti autonomous tractor, drone sebar benih, drone sebar pupuk granule, alsin panen olah tanah terintegrasi dan penggunaan obot tanam.

    "Capaian kita banyak yang melebihi target yang ditetapkan pemerintah. Saya cek gudang beras penuh, harga stabil dan ekspor meningkat tajam, bahkan tertinggi dalam sejarah. Kemudian inflasi rendah dan PDB kita meningkat," kata Amran saat melaunching pertanian 4.0, Sulaiman dalam kunjungan kerjanya ke Desa Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (29/6/2019). 

    Menurut dia, semua capaian ini tidak terlepas dari gagasan presiden Jokowi dalam merevolusi mental semua lini, termasuk menerapkan Pertanian 4.0 pada sektor pertanian. Penggunaan digitalisasi adalah jalan menuju persaingan antar negara di dunia. 

    "Tidak mungkin kita bisa bersaing dengan negara lain tanpa menggunakan pertanian modern. Dari awal kita sudah melakukan digitalisasi seperti e-catalog. Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis," katanya.

    Amran mengatakan, dengan penghematan ini pemerintah bisa mendorong lebih banyak lagi penggunaan alsintan ke seluruh Indonesia. Kedepan, petani di pelosok desa tidak perlu menanam padi dengan cara lama yang masih tradisional. 

    "Jadi kedepan menanam padi menggunakan drone yang bisa menghemat biaya sampai 60 persen. Artinya jika dalam sekali tanam membutuhkan Rp 12 juta, maka dengan alat modern drone cuma butuh Rp 6 juta," katanya.

    Setidaknya, efisiensi tersebut mencapai 40 persen untuk pengolahan tanah, 20 persen untuk proses penanaman dan 28,6 persen untuk penyiangan. Selain itu, penggunaan mesin transplanter dengan metode tanam Jajar Legowo 2:1 juga sangat menghemat waktu, tenaga dan biaya produksi.

    Pasalnya, metode ini mampu meningkatkan produktivitas sampai 0,3-1,8 ton atau 3,5–30,6 persen. Secara finansial, pola ini juga terbukti telah meningkatkan pendapatan petani sebesar Rp.1,3 juta hingga Rp 5 juta. Dengan kata lain, metode ini meningkat tajam sebesar 19,10 hingga 41,23.

    Amran menyampaikan bahwa, pengadaan barang dan jasa untuk alsintan pra panen dan pasca panen melalui e-catalog juga bisa menghemat anggaran negara hingga 1,2 triliun. Dengan begitu, semua biaya menjadi lebih efisien, efektif, transparan dan akuntabel.

    Ketersediaan alsintan dan level mekanisasi Indonesia telah meningkat menjadi 1,68 hp/ha di tahun 2018 yang pada tahun 2015 masih pada level 0,22 hp/ha, yang mana level mekanisasi negara maju seperti Amerika 17 hp/ha, Jepang 16 hp/ha sementara  Vietnam sudah 1,5 hp/ha.

    Selanjutnya, modernisasi pertanian melalui berbagai alat teknologi juga sukses meningkatkan kesejahteraan petani baik pada Nilai Tukar Petani (NTP) maupun Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP). Kedua item ini meningkat masing-masing sebesar 5,45 persen dan 0,42 persen selama periode 2014-2018.

    Dampak lain dari peggunaan mekanisasi ini mampu menurunkan biaya produksi sekitar 30 persen dan meningkatkan produktivitas lahan sebesar 33,83 persen. Walau begitu, harga yang diterima petani menurun (deflasi) akibat produksi melimpah. 

    Inflasi bahan makanan mengalami penurunan terbaik dalam sejarah Indonesia. Tak tanggung-tanggung, angkanya mencapai 1,26 persen pada tahun 2018 dari 20,57 persen di tahun 2014.

    Lebih dari itu, kondisi tersebut juga berdampak langsung pada menurunnya penduduk miskin di pedesaan hingga mencapai 13,20 persen di tahun 2018. Padahal angka sebelumnya di tahun 2014 mencapai 14,17 persen. 

    Bupati Sidoarjo Saiful Illah menyampaikan rasa terimakasih atas pengenalan teknologi pertanian yang diluncurkan Mentan Amran Sulaiman hari ini. Menurut dia, pengenalan ini penting dilakukan mengingat Sidoarjo merupakan Kabupaten subur dengan total luas lahan mencapai 17 ribu hektare.

    "Sidoarjo adalah kabupaten subur untuk tanaman padi. Maka itu, kita berharap mekanisasi ini mampu mengembalikan daya tarik anak muda untuk terjun langsung ke pertanian. Kemudian yang tak kalah penting mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat di Sidoarjo," tandasnya.

    Berita Terkait

    Kembangkan Inovasi K/L dan Pemda, Tingkatkan Ketertiban Masyarakat

    Semua Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah telah diinstruksikan untuk melakukan inovasi bagi terwujudnya peningkatan ketertiban masyara Selengkapnya

    Penuhi Target SPBE, BKN Sinkronkan Data ASN 85 Instansi Pusat dan 542 Instansi Daerah

    Guna memenuhi target terwujudnya Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 95 Tahun 2018 dan Selengkapnya

    Bertemu Presiden, Tokoh Papua dan Papua Barat Sampaikan 10 Permintaan

    Presiden Joko Widodo didampingi Menko Polhukam Wiranto, Mensesneg Pratikno, Menlu Retno Marsudi dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Selengkapnya

    Inilah 10 Nominasi Kategori Umum dan 3 Kategori Khusus Festival Gapura Cinta Negeri

    Festival Gapura Cinta Negeri yang diselenggarakan mulai tanggal 17 Juli sampai 17 Agustus 2019, saat ini telah masuk ke tahap penjurian. Sej Selengkapnya