FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    27 05-2019

    129

    Kisah dari Makassar, Kerja Penjaga Frekuensi untuk Mudik Lancar

    KategoriArtikel | Yusuf
    - (DPS)

    Makassar, Kominfo - Demi kelancaran jaringan komunikasi sepanjang musim mudik dan balik Lebaran, tim Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Ditjen PPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan pengukuran kualitas jaringan telekomunikasi di Makassar, Sulawesi Selatan (08/05/2019).

    Kami dari Biro Humas Kominfo pun tidak membuang kesempatan ini untuk melihat dari dekat dan menyaksikan langsung kerja para penjaga frekuensi itu.  Selepas sahur, dengan semangat, kami  terbang dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 05.10 WIB dan tiba di Bandara Sultan Hassanudin pukul 08.40 WITA.

    Selang dua jam berikutnya, tim "Penjaga Frekuensi" Ditjen PPI tiba di lokasi. Dikomandoi Indra Apriadi, penjabat Kepala Sub Direktorat Monitoring dan Evaluasi Telekomunikasi Khusus dan Jaringan Telekomunikasi Ditjen PPI Kominfo, anggota tim itu ini terdiri dari tiga personel: Anton Agustino, Ivan Favian, dan Kurniawan.

    Tak menunggu lama, Indra yang mengenakan jaket cokelat kekinian dipadu topi, celana jeans dan sepatu boot, meminta ketiga anggota tim melakukan pengukuran kualitas jaringan.

    Indra Apriadi saat diwawancarai tim biro humas

    "Setiap tahun, saat menjelang mudik Lebaran, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia dan operator telekomunikasi melakukan pemantauan dan pengujian kualitas jaringan telekomunikasi," tutur Indra.

    “Salah satu ukuran yang selalu dipantau oleh Kementerian Kominfo adalah terkait dengan layanan telekomunikasi Quality of Service (QoS). Jadi QoS itu kualitas yang tersedia untuk pelanggan bisa berkomunikasi dengan baik, yang dijamin oleh operator. QoS ini akan sangat bergantung dari keandalan infrastruktur yang dibangun oleh operator, maka pada saat -saat tertentu, seperti mudik lebaran, relatif yang menggunakan jaringan telekomunikasi meningkat,” paparnya. 

    Penjaga Frekuensi pun kemudian mengeluarkan perangkat dari tas. Ada ponsel biasa namun terhubung dengan perangkat lain yang memiliki banyak aplikasi. Menurut Indra, aplikasi itu digunakan untuk pengukuran terhadap seluruh parameter layanan seluler. "Ponsel-ponsel tersebut terhubung ke tablet yang digunakan sebagai masternya yang dapat memerintahkan seluruh ponsel untuk menjalankan proses pengukuran melalui koneksi bluetooth," jelasnya.

    Uji jaringan pun berlanjut. Indra menjelaskan, saat ini timnya tengah melakukan uji jaringan menggunakan metode static call. Pengukuran kualitas jaringan operator seluler di Makassar, lanjutnya, dilakukan dengan metode static test pada titik-titik yang diperkirakan menjadi jalur mudik, yakni di Pintu kedatangan dan keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin untuk moda pesawat terbang, Pelabuhan Soetta untuk moda angkutan laut dan Terminal Bus Daya untuk moda angkutan darat. 

    Selain itu juga dilakukan metode drive test di inner city Kota Makassar. Rute yang dilintasi di antaranya Jl. Tol Insinyur Sutami, Jl. Tol Reformasi, Jl. Nusantara, Jl. Poros Makassar – Maros. “Statik dilakukan berdasarkan uji panggil (test call) dengan posisi tidak bergerak pada wilayah yang dapat diakses publik, yang berada dalam wilayah cakupan penyelenggara jasa. 

    Perhitungan didasarkan pada sample test call pada jam sibuk di hari kerja, dengan ukuran sampel paling sedikit 260 (dua ratus enam puluh) test call yang terdiri dari test call on-net sebanyak 

    200 (dua ratus) dan test call off- net sebanyak 60 (enam puluh). Sedangkan sistem drive test untuk pengujiannya dilakukan selama 5 jam dengan mengambil sampel pada saat berkendaraan di jalan utama,” tutur Indra. 

    Gerak Cepat Uji Jaringan

    Di tengah uji jaringan tersebut, tim Biro Humas pun mewawancarai Indra seputar pengukuran kualitas jaringan telekomunikasi ini. Menurutnya, pengukuran kualitas jaringan telekomunikasi (QoS) dilakukan untuk mengetahui kesiapan operator telekomunikasi dalam menyambut mudik dan perayaan Lebaran yang berpotensi terjadinya lonjakan trafik telekomunikasi.

    Jawaban tersebut pun memantik pertanyaan lain, seperti misalnya parameter uji, metode yang digunakan, acuan pelaksanaan, dan sebagainya. Saking banyaknya pertanyaan yang dilontarkan Indra pun menghentikan jawabannya dan berkata, ”Tunggu tunggu.. Tunggu, lu nanyanya kayak orang BPK aja, gue jadi serasa di-bredel,” kelakarnya sambil tertawa.

    Tapi, Indra tetap menjawab pertanyaan dari tim peliput Biro Humas. Ia mengatakan bahwa pengukuran kesiapan jaringan dan layanan telekomunikasi dilakukan untuk mengukur kualitas layanan telekomunikasi selular baik berupa voice, sms maupun data. Hal ini dilakukan guna mendukung kebutuhan layanan telekomunikasi bagi masyarakat baik pada saat dalam perjalanan mudik, maupun di hari perayaan Idul Fitri di kota tujuan.

    Indra pun menjelaskan pengecekan kesiapan jaringan seluler di Kota Makassar ini diadakan berkat kerjasama jajaran Kementerian Kominfo bersama lima operator seluler (Telkomsel, Indosat, XL Axiata, H3I, dan SmartFren).

    Kegiatan ini dilakukan bukan tanpa landasan. Pasalnya, ini mengacu pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI Nomor 16 Tahun 2013 Tentang Standar Pelayanan Jasa Telepon Dasar Pada Jaringan Bergerak Selular.

    “Kegiatan pengukuran QoS sebelumnya telah dilakukan pada tanggal 02 – 07 Mei 2019 di Kota Solo, Yogyakarta, dan Semarang pada titik-titik keberangkatan dan kedatangan mudik, jalur mudik, arus balik dan inner city,” lanjutnya.

    Gunakan Perangkat Sendiri

    Ditanya soal perangkat yang dibawa tim PPI, ada sesuatu yang jadi pembeda dibanding tahun sebelumnya. Di tahun ini, pengukuran oleh Direktorat Pengendalian Pos dan Informatika menggunakan perangkat sendiri yang dioperasikan oleh tim internal.

    Tim Ditdal PPI Gunakan Alat QoS sendiri

    Indra memaparkan kalau tahun lalu timnya hanya menerima hasil pengukuran self assesment dari operator. Namun dengan perangkat sendiri, hasil perhitungan bisa dijadikan pembanding.

    Adapun metode yang digunakan Indra bersama tim adalah metode static test pada titik-titik yang diperkirakan. Seperti pengujian dilakukan di ruang kedatangan selama satu jam, dan 1,5 jam di luar pintu kedatangan.

    Static test dilakukan berdasarkan uji panggil (test call) dengan posisi tidak bergerak. Perhitungan harus didasarkan pada sampel test call pada jam sibuk pada hari kerja. Ukuran sampel sendiri paling sedikit ada 260 test call yang terdiri dari 200 test call on-net dan 60 test call off-net.

    Setelah dirasa cukup, tim pun melanjutkan ke destinasi selanjutnya yakni menuju Hotel Aston Makassar guna istirahat sejenak dan salat dzuhur. Tak mau berlama-lama,  selang 30 menit tim menuju pelabuhan Soekarno-Hatta untuk melakukan static test kembali.

    Serangkaian tes pun dilakukan serupa dengan yang di bandara tadi pagi, dan semuanya berjalan lancar. Namun karena sekiranya waktu berbuka puasa menjelang, kami semua memutuskan untuk rehat dulu.

    Sambil menikmati keindahan Pantai Lossari, kami pun memutuskan untuk berbuka puasa di sini, tepatnya di RM. 999. Tanpa pikir panjang, rasanya kurang afdal kalau tidak mencicipi kuliner khas Kota Daeng ini, yaitu coto Makassar dan es pisang ijo.

    Meskipun jauh dari keluarga, kami yang tengah mengemban tugas di sini seakan tidak merasa kehilangan momen serupa. Setelah kembali menjalankan serangkaian pengujian, kami semua berburu kuliner lain yaitu mie titi. Mie kering khas yang dimasak dengan bara dan bumbu kuah mirip capcay sungguh menambah semangat kami untuk pengujian esok hari.

    Di hari ke dua, tim PPI melakukan drive test dengan rute Jl. Tol Insinyur Sutami, Jl. Tol Reformasi, Jl. Nusantara, Jl. Poros Makassar – Maros. Drive test dilakukan mulai pukul 06.00 WITA yang dimulai dari Hotel Aston Makassar menuju Terminal Bus Daya.

    Dari Terminal Daya, tim langsung menuju Bandara Sultan Hassanudin untuk melakukan static test di pintu keberangkatan penumpang. Di Bandara, tim PPI melakukan pengujian kurang lebih selama dua jam.

    Menjaga Stabilitas Jaringan

    Muhammad Fatra Amir, petugas Drive Test Analyst XL Axiata Makassar yang turut mendampingi tim Kominfo melakukan uji jaringan, mengungkapkan bahwa Site Tower XL di bagian 4G-nya terbagi di frekuensi 1.800 dan 2.100 Mhz.

    Menurut Fatra Amir, kini frekuensi XL sudah masuk LTE 900 Mhz. Ia menyebut, untuk cover area bandara sudah lengkap yakni dari 2G, 3G nya maupun 4G.

    Sementara untuk di Pelabuhan Soetta sudah sangat aman karena Site Tower terdekat hanya berjarak 300 meter, dan ada juga Site Tower yang mem-backup. Kemudian sektor 3-nya mengarah ke penumpang dan sektor 2-nya mengarah ke Peti Kemas.

    Handoko Untung selaku Core Network Specialist XL Axiata menambahkan bahwa dalam menghadapi musim mudik lebaran di wilayah timur, difokuskan di Sulawesi Selatan karena merupakan gerbang bagian timur Indonesia.

    Pak Handoko Senior Core Specialist ROH XL Axiata

    Selain itu, demi menghadapi lonjakan trafik data dari para pneggunanya, XL Axiata menyiapkan kapasitas dari sisi BTS-nya. “BTS akan diberi penambahan beberapa bandwidth, capacity, dan kami akan mengupgrade kapasitas backbound serta routernya,” ujar Handoko.

    Lebih jauh Handoko menjelaskan, pada saat lebaran ini kan traffic komunikasi seperti telepon, sms, ataupun data meningkat drastis. Agar tidak terjadi penurunan, XL melakukan uji jaringan telekomunikasi guna meningkatkan kualitas berdasarkan network yang sudah ada.

    Setiap bulan, pihak XL selalu bekerja berdasatkan SOP dengan melakukan test di beberapa Spot/jalur yang menjadi main traffic dari lalu lintas pelanggan, baik dari dalam maupun luar kota. “Jadi drive test selalu kami lakukan,” tandas Handoko.

    Ditambahkannya, saat ini Kominfo tengah membangun Palapa ring atau jaringan fiber optik yang terhubung dengan 514 kabupaten/kota. “Menurut saya ini merupakan peluang yang bagus khususnya untuk di Area Timur karena ke depannya mungkin akan sangat menolong terkait dengan ekspansi  yang akan kami lakukan. Ke depannya, jika XL akan membangun network di daerah 3T, pastinya Palapa Ring ini akan jadi tumpuan bagi XL. Karena kita tahu sendiri keempat kota besar itu tidak akan dibangun sendiri oleh operator karena membutuhkan biaya yang mahal dan akan lebih efisien jika menggunakan network yang sudah ada,” terang Handoko.

    Menyambut musim mudik, Handoko menyebut bahwa Xl Axiata memiliki posko mudik. Jadi team network akan standby mengawasi performa jaringannya. Selain di posko mudik, XL Axiata juga mempunyai War Room untuk memantau jaringan setiap saat.

    Untuk lonjakan trafik data yang paling tinggi terjadi di tahun 2018 yang  lalu. Karena trend teknologi saat ini ada subtitusi penggunaan dari sms tradisional berubah menjadi data service. Sementara itu, untuk hambatan hampir tdk ada karena networknya terpantau 24 jam dan juga kami menyediakan kapasitas yang lebih di beberapa spot tim yang diturunkan.

    Kendala Berujung Berkah

    Tak terasa, serangkaian kegiatan pengujian mengantar kami menuju sore terasa lebih cepat. Karena waktu pengujian minimal harus selama lima jam, tentu pengujian terpotong lagi dengan waktu berbuka puasa. Kendati demikian, alat pengukuran jaringan tetap saja dihidupkan menuju ke Pantai Losari.

    Di ujung tugas, salah satu anggota tim PPI Ivan Favian, sempat mengatakan bahwa tantangan selama melakukan pengujian dan pengukuran jaringan ini adalah meng-handle alat pengukur saat aplikasi crash.

    Kendala ini biasa terjadi karena over heat pada perangkat yang mencapai suhu lebih dari 45 derajat celcius. “Kalau sudah crash, otomatis harus ngulang lagi pengukurannya, dan penarikan data pasti dilakukan dari awal lagi,” ungkap Ivan.

    “Bukan hanya itu, kendala yang dihadapi tim juga dari koneksi jaringan router atau modem yang tidak stabil,” lanjutnya.

    Ibarat peribahasa “sambil menyelam minum air,” di tengah kesibukan, kami bersama tim PPI menyempatkan waktu untuk membeli oleh-oleh mantau pare (sejenis roti/bakpau kukus khas Makassar). Inilah yang dianggap oleh tim sebagai berkah bertugas di luar kota; wisata kuliner.

    Hingga malam tiba, serangkaian pengujian yang telah sukses dilakukan, Pantai Losari seakan-akan menjadi hadiah tak ternilai dari Yang Maha Kuasa. Camilan pisang epe, es capuccino serta es milo menambah rasa syukur kami.

    Di sela kelegaan, kami pun berdoa semoga jaringan telekomunikasi mudik Lebaran mampu membantu masyarakat banyak. Semoga sumbangsih ini mampu membantu menjalin silaturahmi dan menambah relasi baru. (hm.ys)

    Anton salah satu petugas QoS Ditdal PPI di Makassar

    Berita Terkait