FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
21 05-2019

92

Kominfo Pastikan SPDP Prabowo Hoaks!

Kategori Berita Kementerian | mth

Jakarta, Kominfo – Sebuah unggahan konten menjadi viral di media sosial menyebut Capres 02 Prabowo Subianto. Dalam konten itu, ada foto yang memperlihatkan terbitnya Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP). 

Berdasar penelusuran dari Subdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, sebuah akun mengunggah surat tersebut dengan narasi “SPDP Prabowo Sebagai Tersangka Makar.”

Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu mengatakan, disinformasi itu telah dibantah oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.  “Waketum Gerindra Pak Dasco telah menampik terbitnya SPDP itu yang atas nama Prabowo Subianto terkait kasus makar,” kata Ferdinandus di Jakarta, Selasa (21/05/2019).

Lebih lanjut, Ferdinandus menjelaskan, SPDP yang beredar luas itu bukan menyatakan Prabowo sebagai tersangka dugaan makar.  “Dasco juga mengatakan, SPDP itu merupakan SPDP Eggy Sudjana, tersangka kasus dugaan makar. Dalam SPDP itu status Prabowo adalah terlapor bukan tersangka,” jelasnya.

Ferdinandus menegaskan, pihak Kepolisian sudah menarik SPDP Prabowo sebagai terlapor dalam kasus tersebut. Sementara pasca pengumuman pemenangan Pilpres 2019 yang disampaikan dalam rapat pleno di gedung KPU, Selasa 21 Mei dini hari, beredar kabar hoax di media sosial bahwasanya KPU telah melakukan hal yang licik. 

KPU mengumumkan pemenang sementara penghitungan masih 92%. Narasi tersebut, disertai screen shoot website situng KPU yang menampilkan persentase 92%. 

Sebagaimana diketahui, Ketua KPU Arief Budiman menegaskan, jika Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) tidak digunakan untuk menetapkan hasil resmi pemilu 2019. Hasil pemilu yang akan ditetapkan berasal dari rekapitulasi manual secara berjenjang, dari tingkat kecamatan, berlanjut ke kabupaten, kemudian provinsi, hingga terakhir di tingkat nasional. 

“Beliau juga menegaskan, situng bertujuan menjadi alat bantu memberikan informasi dengan cepat. Bagian dari penyediaan informasi yang terbuka, transparan kepada publik. Adapun nanti yang di rekapitulasi secara manual berjenjanglah yang dijadikan dasar penetapan,” lanjut Ferdinandus.  

Terkait dengan pengumuman hasil pemilu yang dilakukan, KPU telah merampungkan rekapitulasi suara Pemilu 2019 di 34 provinsi, Selasa (21/5) dini hari. Usai menyelesaikan rekapitulasi, KPU mengumumkan hasil rekapitulasi Pemilu 2019. 

Berikut rincian lengkap laporan isu hoaks harian untuk tanggal 21 Mei 2019 dari Tim AIS Kementerian Kominfo.

1. Kivlan Zein Bandar Demo Prabowo Mau Melarikan Diri

2. Seorang Syekh Palestina Ditembak Zionis Israel, Peluru Tidak Bisa Menembus Kepalanya

3. Kapal Perang Negara Lain di Perairan Indonesia Untuk Evakuasi Warganya Apabila Terjadi Sesuatu Yang Genting

4. Suku Pedalaman Turun ke Jalan untuk Menyelamatkan Negeri dari Kecurangan

5. Masih 92 % Sudah Diumumkan Menang Jokowi

6. Anjing Menyelamatkan Bayi Baru Lahir

7. Kwik Sindir Anak Jokowi: Pura-pura Jual Martabak Tapi Pegang Proyek Besar

8. Imbauan Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Mohammad Iqbal

9. SPDP Prabowo Sebagai Tersangka Makar

10. Kebakaran Pabrik Kembang Api

11. Penemuan Ikan Mirip Manusia di Kalimantan **

Berita Terkait

Menkominfo Pastikan Pemerintah Tak Intervensi UU Pers

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers merupakan acuan mendasar bagi insan pers di Tanah Air. Undang-Undang tersebut lahir sebagai b Selengkapnya

Menkominfo: Jadikan Pancasila Inspirasi "Politik Harapan"

Menteri Kominfo Rudiantara menyatakan Pancasila perlu dijadikan sebagai sumber inspirasi "politik harapan" dalam kehidupan berbangsa dan ber Selengkapnya

Kominfo Temukan Kabar Hoaks Soal Aksi 22 Mei dan Situng KPU

Sejumlah konten yang memuat ujaran kebencian, fitnah dan hoaks tersebar melalui media sosial dan pesan instan. Konten yang terkait aksi demo Selengkapnya

Kominfo Ajak Warganet Jaga Data Pribadi Sambil NgabuburIT

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengajak warganet untuk menjaga data pribadi. Lantaran, data pribadi menjadi komoditas bernilai tingg Selengkapnya