FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    09 05-2019

    8611

    BNPT: Internet Jadi Media Penyebarluasan Terorisme

    Kategori Berita Kominfo | daon001

    Jakarta, Kominfo - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius menyebut internet menjadi salah satu media penting dalam penyebarluasan radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, semua menurutnya semua pihak perlu secara proaktif dalam ikut menanggulangi potensi terorisme yang disebarluaskan melalui internet.

    "Selain menjadi kekuatan, internet juga menjadi ancaman dalam penyebaran hoaks, radikalisme, penipuan, pornografi, bullying, prostitusi, SARA, ujaran kebencian, narkoba, dan masih banyak lagi ancaman dari internet tersebut," ujarnya usai MoU dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika di  Lapangan Anantakupa, Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Rabu (08/05/2019).

    Data Kementerian Kominfo, menunjukkan selama tahun 2018, sudah dilakukan pemblokiran konten yang mengandung radikalisme dan terorisme sebanyak 10.499 konten. Terdiri dari 7.160 konten di Facebook dan Instagram, 1.316 konten di Twitter, 677 konten di Youtube, 502 konten di Telegram, 502 konten di filesharing, dan 292 konten di situs website.

    “Hampir seluruh masyarakat memiliki smartphone bahkan lebih dari satu. Akan tetapi tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mem-filter denganbaik sehingga menyebabkan cikal bakal radikalisme dan terorisme tersebar,” ungkap Alius.

    Menurut Alius, saat ini pola rekrutmen terorisme sudah berlangsung juga melalui website dan jaringan internet.  “Dulu terorisme melakukan rekrutmen secara tertutup dan dengan pembaitan langsung, namun sekarang perekrutan secara terbuka dan melalui website dan media sosial, bahkan pembaiatan pun dapat dilakukan secara online,” tutur Alius.

    Menurut Kepala BNPT, salah satu cara penganggulan terorisme yang dilakukan dengan melakukan pendekatan dengan menggunakan hati. Alius mencontohkan pendekatan yang dilakukan BNPT di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di desa itu, BNPT melakukan pendekatan dengan mendatangi desa tersebut untuk menanamkan akan nilai-nilai kebangsaan.

    “Saya datang ke desa tersebut dan mendatangi mereka untuk mengajak mereka agar mencintai Indonesia, bukan dengan me-marginal-kan mereka. Karena apabila mereka dikucilkan, maka mereka akan menjadi teroris ke depannya,” tutur Alius.

    Bahkan di kawasan itu, BNPT membangun masjid dan Tempat Pembelajaran Al-Qur’an (TPA). Hasilnya dalam lima bulan, warga desa ikut aktif dalam kegiatan perayaan hari besar nasional, termasuk dalam upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia.

    “Sekarang kita bisa melihat bahwa mereka mencintai Indonesia dengan menjadi petugas upacara. Bahkan mereka bercita-cita untuk menjadi TNI/Polri. Mereka yang dahulunya dendam dengan Indonesia karena eksekusi orang tua mereka menjadi cinta dengan Indonesia,” papar Alius.

    Pola pendekatan BNPT, menurut Suhardi Alisu mendapat apresiasi dari berbagai negara. Bahkan menjadi contoh dunia dalam penanggulangan terorisme. Hal ini dibuktikan dengan kedatangan Menteri Luar Negeri Belanda Stephanus Abraham Blok untuk belajar deradikalisasi lunak ala BNPT.

     

    Berita Terkait

    Awas Hoaks! Informasi Tenggat Penguruan STR Seumur Hidup

    Klaim terkait pengurusan STR Seumur Hidup bagi named dan nakes sebelum tanggal 1 Februari 2024 adalah tidak benar. Selengkapnya

    Puji WHOOSH, Menteri Budi: Momentum Kemajuan Transportasi Publik

    Menkominfo optimis jalur KCJB dapat terhubung ke beberapa kota lain selain Jakarta-Bandung. Selengkapnya

    [Berita Foto] Menteri Budi Arie Tinjau Penyedia Layanan Data Center

    Menkominfo meninjau salah satu perusahaan penyedia layanan data center. Selengkapnya

    [Berita Foto] Dialog Interaktif Merawat Wajah Beranda Lewat Penyiaran Berkualitas

    Penyelenggaraan peringatan Hari Penyiaran Nasional ke-90 di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau dapat menambah semangat dan motivasi untuk meng Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA