FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
11 07-2018

405

IDE Hub, Kontribusi Indonesia untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi dan Sosial

Kategori Berita Kementerian | patr001

Jakarta, Kominfo - Kementerian Komunikasi dan Informatika kini tengah melakukan uji kelayakan inisiasi Inclusive Digital Economy (IDE) Hub. Sebuah portal yang dirancang untuk memberikan akses dan berbagi inisiatif pemanfaatan teknologi digital bagi pemerintah dan kepala negara di seluruh dunia dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial.

“Yang kami lakukan adalah ini suatu sistem dimana kita bisa memproses bisnis model-bisnis model tentang pemanfaatan digitalisasi. (Pengujian) Fine tune mulai dari MIKTA dulu, kemudian nanti G20 dan seluruh dunia yang (diharapkan) memberikan impact positif terhadap pengurangan kesenjangan ekonomi," jelas kata Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang PMO dan Ekonomi Digital, Lis Sutjiati di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Rabu (11/07/2018).

Menurut Lis Sutjiati, IDE Hub merupakan kurasi atas studi kasus tentang tahapan adopsi inisiatif digitalisasi yang memiliki dampak siginifikan dalam peningkatan ekonomi masyarakat. Ia menyontohkan salah satunya dengan menyajikan bagaimana keberadaan GoJek yang bisa membuka akses terhadap kegiatan ekonomi masyarakat melalui aplikasi digital.

"Kalau memang ternyata bisa memberikan penurunan kesenjangan ekonomi, kita rekomendasikan kepada negara-negara lain yang ingin kesenjangan sosialnya juga menurun,” katanya seraya menambahkan dalam IDE Hub lebih disajikan soal bagaimana perubahan itu bisa dilakukan dan regulasi apa saja yang perlu dikembangkan oleh pemerintah.

Penerapan digitalisasi sudah menjadi kebutuhan di Indonesia, melalui MIKTA Experts' Meeting kita membahas inovasi yang diinisiasi oleh Indonesia terkait bagaimana kita menggunakan digital economy sebagai model bisnis digital ekonomi yang merupakan solusi untuk menurunkan kesenjangan ekonomi atau sosial yang dihadapi oleh hampir semua negara-negara di dunia. "Ini juga merupakan salah satu agenda dari Presiden yaitu pemerataan akses kepada ekonomi,” tandas Lis Sutjiati.

Menurut Lis hampir semua negara di dunia menghadapi tantangan kesenjangan ekonomi. "Tidak hanya di negara berkembang, setelah dilihat, ternyata permasalahan ini bukan hanya Indonesia tapi 20 negara terbesar ekonomi di dunia ternyata mengalami permasalahan yang sama” jelasnya.

Staf Khusus Menteri Kominfo tersebut mengatakan ketika saat ini masuk ke era digitalisasi membuka peluang pemanfaatan teknologi digital untuk menekan kesedengan kehadiran bahwa sekarang sudah masuk ke era digitalisasi. “Dari studi yang dilakukan di Indonesia, kita menganalisa bahwa unicorn Indonesia mempunyai dampak ekonomi sosial yang luar biasa. Setelah kita analisa lagi ternyata bisnis-bisnis model digital economy itu terbukti dapat memberikan kontribusi untuk menurunkan kesenjangan ekonomi ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut Lis jelaskan bahwa bisnis model yang dimaksud adalah bisnis model yang inovatif yang bisa mengcreate sharing economy yang bisa diakses. “Contohnya dengan market place dapat membuka toko online seperti tokopedia dan buka lapak, dalam waktu dua s.d. tiga tahun saja sudah ada merchant mereka sekitar 3000 kecamatan di Indonesia. Contoh lain yaitu Grab atau Uber, dulu kalau bisnis taxi hanya orang kaya saja yang bisa masuk ke sana,” katanya.

Keuntungan Indonesia

Inisiatif IDE Hub dalam pandangan Lis Sutjiati merupakan kontribusi Indonesia kepada ekonomi global. “Tidak hanya one way dari Indonesia kepada luar tapi kita mau dari semua negara yang ada sehingga bisa diadopsi ke negara Indonesia nantinya. Ini akan memberikan rekomendasi kepada kepala  negara atau pemerintah di dunia opsi-opsi apa saja yang bisa diambil dari digital economy yang bisa membantu mereka menyelesaikan masalah kesenjangan ekonomi yang ada di negaranya,” jelasnya.

Mengenai keuntungan bagi Indonesia, Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang Ekonomi Digital itu menjelaskan ada tiga hal, yaitu pengurangan gini ratio, mempercepat adopsi model bisnis digital yang sesuai dengan Indonesia dan mendorong insiatif digital Indonesia diadopsi secara global.

“Keuntungan untuk Indonesia yaitu kita punya kepentingan untuk menurunkan gini ratio atau kesenjangan ekonomi. Kalau ada model-model lain di negara lain yang cocok dengan negara kita, kita bisa adopsi untuk masyarakat kita. Kemudian bagaimana bisnis model yang ada di Indonesia ini bisa dibantu, di-support oleh pemerintah sehingga ekspansinya lebih besar di Indonesia. Yang ketiga, bisnis-bisnis model di Indonesia bisa lebih cepat diadopsi diterima di negara lain,” jelasnya seraya menyebut peran PwC sebagai konsultan untuk penerapan IDE Hub.

 

MIKTA Experts’ Meeting

Direktur Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementrian Luar Negeri Muhsin Syihab menjelaskan bahwa MIKTA adalah new innovative partnership. “Ini adalah sebuah kemitraan yang terdiri dari lima negara yaitu Mexico, Indonesia, Korea, Turki, dan Australia. Lima negara ini dianggap memiliki kekuatan menengah (middle power) atau middle income countries. Mereka kebetulan juga merupakan anggota G20. Inisiatif MIKTA pertama kali muncul pada saat pertemuan Menteri Luar Negeri G20. Di sela-sela pertemuan Menteri G20, kemudian kelima Menlu ini mengadakan pertemuan pada tahun 2012 bulan Februari di Los Cabos dan kemudian pada tahun 2013, di sela-sela sidang majelis umum PBB, mereka bersepakat untuk membentuk MIKTA,” katanya.

Muhsin juga menjelaskan tujuan MIKTA untuk memperkuat global governance yang ada saat ini dengan prioritas enanggulangan terorisme, kemudian gender equality, dan energi. “MIKTA ini bukan negotiating block, bukan juga untuk membuat Treaty Agreements tapi MIKTA diharapkan dapat menjadi bridge builder dan consensus maker yang dapat membantu proses kesepakatan di tingkat global” katanya.

Menurut Muhsin Indonesia dalam beberapa kesempatan sudah aktif menginisiasi berbagai kegiatan. “Pada tahun 2018 ini, Indonesia menjadi koordinator MIKTA dari Januari s.d. Desember 2018. Karena Indonesia menjadi koordinator maka Indonesia mengorganize berbagai pertemuan yang terkait dengan MIKTA baik yang sifatnya formal (pertemuan para Menteri Luar Negeri, pertemuan pejabat tinggi) atau pertemuan-pertemuan yang second track (misalnya MIKTA Accademy Network, nanti akan ada juga MIKTA Speakers Consultation). Untuk koordinasi Indonesia ini mengambil tema Fostering Creative Economy and Contributing to the Globalness,” jelasnya. (PS)

Berita Terkait

Penetrasi Internet Dorong Kemajuan Ekonomi Digital Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang tingkat penetrasi penggunaan internet oleh masyarakatnya memiliki angka yang tinggi. Bahkan terca Selengkapnya

Pengawasan Konten Media Sosial untuk Hindari Kerugian Publik

Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan pemerintah tidak membatasi hak berekspresi untuk menggunakan media sosial. Hanya mengawasi Selengkapnya

Menkominfo: Indonesia Siap Jadi Negara Pelaku Ekonomi Digital Terbesar

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, hingga kini instansinya masih gencar melakukan sosialisasi serta peng Selengkapnya

Tiga Building Block Regulasi Untuk Topang Ekonomi Digital

Guna memfasilitasi dan mempercepat perkembangan ekonomi digital di Indonesia, Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informat Selengkapnya