FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
09 09-2017

465

Kembangkan Regulasi, Kominfo Latih Pejabat Eselon I dan II

Kategori Berita Kementerian | Diani Hutabarat

Bekasi, Kominfo - Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Komunikasi dan Informatika mengadakan Program Reformulating Strategy in the era of Disruption untuk pejabat eselon I dan II Kementerian Kominfo. Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Farida Dwi Cahyarini menyebut pelatihan ini ditujukan untuk mengubah cara berpikir peserta dalam mengembangkan regulasi di bidang komunikasi dan infomatika.  "Yang tadinya masih menggunakan cara-cara lama dalam bekerja, menjadi menggunakan cara yang benar-benar baru dan berbeda serta menciptakan strategi-strategi unggul dalam era disruption atau disruptive mindset," katanya dalam pengantar sebelum pelatihan, di Bekasi, Jumat (08/09/2017).
Premium public training itu ditujukan agar pembuat kebijakan dapat menciptakan keunggulan-keunggulan baru untuk mereformulasi strategi organisasi guna memaksimalkan peluang sekaligus tantangan bidang komunikasi dan teknologi informasi. "Core di Kementerian Kominfo yaitu komunikasi dan teknologi informasi. Dua bidang tersebut menjadi pusat perhatian publik, dimana publik menantikan inovasi apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Kementerian Kominfo sebagai regulator dua bidang tersebut," papar Sekjen Farida.
Program Reformulting Strategy in the Era of Disruption diharapkan Sekjen Farida dapat membantu Pejabat Eselon I dan II Kementerian Kominfo untuk mempersiapkan diri menggunakan cara-cara baru yang menggabungkan keahlian, pengalaman, pengetahuan, dan pembentukan karakter. "Memfokuskan organisasi pada proses bisnis yang sifatnya berkelanjutan. Tidak terperangkap pada paradigma masa lalu dan mempersiapkan diri terhadap persaingan dengan lawan-lawan yang tidak terlihat dengan menanamkan konsep bekerja bersama-sama atau kolaborasi, bukan bekerja sendiri," tutur Farida.

Hadapi Fenomena Disruptif
Renald Khasali mengatakan era disrupsi bukan sekadar fenomena hari ini, melainkan fenomena "hari esok" atau the future yang dibawa para pembaharu ke saat ini. "Pemahaman seperti ini menjadi penting karena sekarang kita tengah berada dalam sebuah peradapan baru. Kita baru saja melewati gelombang tren yang amat panjang, yang tiba-tiba terputus begitu saja," paparnya.
Menurut Rheinald, hal yang paling bahaya dalam sebuah organisasi adalah ketika seseorang makin berpengalaman dan merasa pintar maka akan semakin sulit untuk membaca fenomena perubahan. "Ia akan amat mungkin mengalami "the past trap" atau "success trap". Apalagi untuk mencerna dan berselancar di atas gelombang disrupsi. Itu akan sulit sekali diterima oleh orang yang pintar dan berpengalaman tadi," paparnya.
Menurut Kasali, pikiran yang masih kental dengang logika masa lalu dapat menyesatkan. "Kata orang bijak, belajar itu sejatinya menjelajahi tiga fase: learn, unlearn, relearn. Sebab dunia itu terus berubah," ujarnya.
Psikolog Arief Munandar menegaskan disrupsi sesungguhnya terjadi secara meluas. Mulai dari lembaga pemerintahan, ekonomi, hukum, politik, sampai penataan kota, konstruksi, pelayanan kesehatan, pendidikan, kompetisi bisnis dan juga hubungan-hubungan sosial. "Bahkan konsep marketing pun sekarang terdisrupsi. Ingatan publik juga belum sampai pada metode pelayanan kesehatan berbasis teknologi jarak jauh dan kolaboratif," katanya.
Mengenai kolaborasi, Arief menyontohkan disrupsi yang terjadi akibat perubahan cara-cara berbisnis. "Dulunya sangat menekankan owning atau kepemilikan, kini  menjadi sharing atau saling berbagi peran dan kolaborasi resources. Jadi kalau dulu semua perlu dimiliki sendiri, dikuasai sendiri, sekarang tidak lagi. Sekarang kalau bisa justru saling berbagi peran," katanya.
Salah satu ciri era disrupsi menurut Arief adalah kolaborasi. "Sekarang eranya kita bekerja bersama-sama. Kolaborasi, berotong royong. Contohnya aplikasi yang dikembangkan oleh www.kitabisa.com, konsepnya adalah gotong royong untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan," tegasnya.
Program Reformulting Strategy in the Era of Disruption diselenggarakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 8 s.d. 9 September 2017 yang difasilitasi Rumah Perubahan. Pelatihan itu menggunakan perpaduan pembelajaran in-class dan out-class dengan materi antara lain Three Logics Strategy, Reformulating strategy, Aligning RPV (Resources, Processes, Values), Studi Kasus, Escape From the Past, serta Disruptive Strategy.
Acara diselingi berbagai game untuk melihat kerjasama antarpejabat pembuat kebijakan dengan mengedepankan kolaborasi tidak boleh ada yang dominan atau menguasai satu sama lain. (ddh)

Berita Terkait

Menkominfo Tantang Pemda Padukan Pariwisata dan Digital

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menantang pemerintah daerah mengembangkan ekonomi pariwisata dengan memanfaatkan teknologi dig Selengkapnya

Temui Kominfo, KPU Segera Daftarkan SIPOL

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan menyampaikan Komisi Pemilihan Umum akan segera mendaft Selengkapnya

Menkominfo: Ubah Mindset, Itu yang Utama!

"Di Kementerian Kominfo, bekerja yang paling utama adalah mindset. Jadi, mindsetnya diubah. Ini untuk menghilangkan ego sektoral," jelasnya Selengkapnya

Cegah Sebaran Kanker Serviks, Kominfo Gelar Pemeriksaan dan Edukasi

Guna mencegah penyebaran kanker serviks, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan BPJS dan Dinas Kesehatan DKI melaksanaka Selengkapnya

comments powered by Disqus